Rabu, 23 Januari 2008

BAHASA IBU SEBAGAI KUNCI PENGEMBANGAN MENTAL TOOLS






That you may be strong be a craftman in speech for the strength of one is the tounge, and the speech of one is mightier than all fightings।”~Ptahhotep (written 5.000 years ago)






Artikel ini saya tulis untuk memberikan bahan pemikiran pada para orangtua dan pendidik mengenai pentingnya bahasa untuk perkembangan anak. Sebagai sesama orangtua dan juga seorang pendidik sudah tentu kita ingin memberikan yang terbaik bagi putra-putri kita. Kita ingin memberikan bekal yang bisa digunakan anak, kelak, dalam mengarungi samudera kehidupan. Kita semua ingin anak kita sukses. Kita semua, mengutip apa yang ditulis oleh sahabat saya Joseph Landri, bermimpi suatu saat nanti anak kita akan menjadi naga.
Orangtua memahami pentingnya pendidikan sebagai fondasi sukses। Namun sayangnya kebanyakan orangtua kurang kritis dan hanya mengikuti tren yang sedang “in”. Salah satunya adalah mengenai bahasa.


Dulu, waktu komputer baru menjadi tren, setiap orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya pasti akan bertanya kepada pihak sekolah, ”Di sini ada komputer, nggak?” Mengapa orangtua mengajukan pertanyaan ini? Karena mind-set mereka saat itu adalah kalau anak menguasai ilmu komputer maka anak akan sukses. Benarkah demikian?
Saat ini yang lagi ”in” adalah bahasa. Pertanyaan yang selalu diajukan oleh kebanyakan orangtua adalah, ”Di sini bahasa pengantarnya apa? Pake Inggris, Mandarin, atau hanya bahasa Indonesia?”
Nah, sama dengan komputer, mengapa orangtua mengajukan pertanyaan ini? Jawabannya juga sama. Karena mereka berpikir bila anak mampu menguasai bahasa asing, Inggris, atau bahasa ”Aseng”, Mandarin, maka anak pasti sukses di hidupnya kelak. Sekali lagi, benarkah demikian?
Orangtua dan pendidik mempunyai tujuan yang baik dan mulia. Namun sayangnya mereka tidak menyadari bahwa persepsi mereka mengenai sukses didasari oleh asumsi yang salah. Asumsi adalah sesuatu yang diyakini sebagai hal yang benar tanpa didukung oleh data-data yang valid. Asumsi yang salah selanjutnya mempengaruhi persespsi. Persepsi ini kemudian menjadi koridor berpikir yang menentukan arah dan hasil proses pikir mereka.


Nah, kembali ke masalah bahasa. Sebagai orangtua, pendidik, pembicara publik, penulis buku, dosen psikologi, dan juga seorang terapis saya banyak menemukan kasus anak yang ”hang” karena harus memenuhi ambisi dan tuntutan orangtua. Banyak orangtua yang bangga bila anak mereka sejak usia belia telah bisa cas cis cus (baca:berbicara) minimal bahasa Inggris atau kalau bisa sekalian Mandarin.
Ada kawan yang anaknya baru berusia empat tahun tiga bulan telah dicap sebagai anak bodoh karena, setelah dikursuskan, masih mengalami kesulitan menulis dalam bahasa Mandarin.
Ada klien yang saat di PG/TK disekolahkan di sekolah yang bahasa pengantarnya Inggris dan Mandarin. Namun saat masuk SD si anak, karena orangtuanya tidak mampu menyekolahkan di sekolah internasional atau yang bilingual karena mahal, masuk ke sekolah biasa dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Anak ini mengalami kesulitan belajar yang luar biasa dan akhirnya mengalami trauma yang cukup berat. Selidik punya selidik ternyata anak ini cukup cerdas. Masalahnya adalah di bahasa. Jelas tidak mungkin kita bisa mempelajari sesuatu dengan bahasa yang kita tidak kuasai. Dalam hal ini anak mengalami double-trauma. Pertama, anak trauma dengan bahasa dan yang kedua adalah dengan materi pelajaran. Ada lagi anak yang ”down” setelah di kelas tiga SD. Alasannya sama. Anak mengalami kesulitan menguasai bahasa Inggris atau Mandarin yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran.
Semua ini terjadi karena orangtua, karena ambisi yang didasari oleh asumsi yang salah, tidak bisa membantu anaknya di rumah. Di sekolah anak harus belajar dengan bahasa Inggris atau Mandarin. Sedangkan di rumah anak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Ditambah lagi orangtua juga nggak bisa bahasa Inggris atau Mandarin. Akibatnya sangat fatal bagi perkembangan anak. Dalam hal ini perkembangan kecerdasan linguistik anak menjadi terhambat dan ini mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.
Pernah ada orangtua, yang anaknya saat itu di SD kelas 3 bermasalah akibat dipindahkan dari sekolah biasa ke sekolah dengan pengantar bahasa Inggris, saat konsultasi dengan kami, berkata pada anaknya, saat itu si anak bersin, ”Clean your nose...Jhu jhi! Ambil tisue cepat!”
Hebat kan orangtua ini? Dalam satu kalimat ia menggunakan tiga bahasa sekaligus. ”Clean your nose” artinya bersihkan hidungmu (ini bahasa Inggris). ”Jhu jhi” artinya keluar (ini Mandarin), dan “Ambil tisue cepat” (bahasa Indonesia).
Tolong jangan salah mengerti. Saya tidak anti pendidikan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris atau Mandarin. Yang saya ingin sampaikan adalah sebagai orangtua dan pendidik, kita harus hati-hati dan tidak hanya ikut trend. Kita harus mendasari tindakan kita dengan alasan dan pengetahuan yang benar.
Ada banyak kawan saya yang anaknya sekolah di sekolah bilingual dan anak mereka berkembang sangat baik. Kawan saya ini ternyata menguasai bahasa asing dengan sangat baik. Dengan demikian mereka mampu membantu anak berkembang dengan optimal.
Pertanyaannya sekarang, ”Kapan waktunya mengajari anak bahasa asing? Bukankah waktu anak kecil otak mereka mampu belajar banyak hal termasuk bahasa? Kalau tidak diajarkan banyak bahasa nanti apa nggak terlambat?”
Saya ingin meluruskan satu hal. Kita boleh menstimulasi anak dengan bahasa apa saja. Namun jangan memaksa mengajar anak banyak bahasa. Lha, apa bedanya? Mengajar mengandung konsekuensi harus bisa. Sedangkan menstimulasi adalah memberikan pengalaman belajar sebanyak-banyaknya, anak tidak harus bisa.
Kesulitan belajar bahasa timbul sebagai akibat proses belajar bahasa yang salah. Cara belajar yang benar adalah kita belajar bicara dulu. Baru setelah itu kita belajar tulis dan baca. Jadi, dari lisan ke tulisan. Jangan dibalik. Coba perhatikan anak kita saat belajar bahasa ibunya. Anak, saat masuk PG/TK, telah mampu berkomunikasi dengan baik. Saat di sekolah barulah anak belajar membaca dan menulis. Proses ini bisa berjalan mulus karena anak telah menguasai bahasa lisan.
Terlepas dari apa bahasa yang akan kita ajarkan kepada anak, satu yang harus benar-benar orangtua perhatikan adalah anak membutuhkan fondasi untuk menguasai bahasa lainnya, entah itu bahasa asing atau bahasa Aseng. Fondasi ini adalah bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia? Ya, karena kita tinggal di Indonesia. Ini bukan masalah nasionalisme namun ini kita bicara proses tumbuh kembang anak. Pater Drost, di salah satu tulisannya, pernah bercerita bahwa anak sekolah di Belanda, selama enam tahun di sekolah dasar hanya diajarkan satu bahasa yaitu bahasa Belanda. Tidak diajarkan bahasa lain. Namun begitu anak-anak itu naik ke SMP dan SMA langsung diajarkan banyak bahasa asing. Hasilnya? Mereka mampu menguasai dengan baik bahasa Inggris, Jerman, dan Perancis. Kok bisa? Ya karena fondasinya kuat. Anak-anak itu menguasai bahasa ibu mereka, bahasa Belanda, dengan sangat baik.
Lalu, apa hubungan antara apa yang telah saya uraikan panjang lebar dengan judul artikel ini? Sangat erat. Sekarang saya akan membahasnya secara lebih teknis.
Tool atau piranti adalah sesuatu yang membantu kita dalam memecahkan suatu masalah, sebuah instrumen yang membantu kita melakukan suatu tindakan. Selain mengembangkan piranti untuk membantu dan memudahkan kerja, kita juga mencipta dan mengembangkan mental tools/piranti mental, atau piranti pikir, untuk mengembangkan kemampuan mental kita. Mental tools ini membantu kita untuk bisa memperhatikan, mengingat, dan berpikir lebih baik.
Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.
Para penerus Vygotsky percaya bahwa mental tools memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangkan kemampuan berpikir. Seiring dengan proses tumbuh kembangnya, anak secara aktif menggunakan piranti yang telah mereka ciptakan dan kembangkan serta mengembangkan piranti baru sesuai kebutuhan mereka.
Kekurangan atau ketiadaan mental tools membawa akibat jangka panjang negatif terhadap pembelajaran karena mental tools mempengaruhi tingkat berpikir abstrak yang dapat dicapai seorang anak.
Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan/masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa,dan evaluasi), termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.
Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel, dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru, dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama; bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan pikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses pikir. Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan, dan pemecahan masalah.
Salah satu kekuatan pendekatan Vygotsky adalah ia tidak hanya berbicara pada tataran teori namun juga praktik. Apa yang ia formulasikan telah dicobakan dalam mengajar mental tools pada anak-anak. Sebagai pembanding terhadap pendekatan Vygotsky pembaca bisa mempelajari pemikiran Piaget (constructivism), Watson dan Skinner (behaviorism), Freud (psychoanalysis), Koffka (Gestalt psychology), dan Montessori.
Terdapat empat prinsip yang mendasari pendekatan Vygotsky yaitu:- Anak mengkonstruk pengetahuan- Pengembangan diri anak tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial- Pembelajaran dapat membantu pengembangan diri- Bahasa memainkan peran vital dalam pengembangan mental
Bila kita cermati maka keempat prinsip di atas semua menggunakan bahasa sebagai medianya. Tidak mungkin tanpa bahasa. Oleh sebab itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa ibu, dengan baik mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal.
Bila kita tarik benang merahnya ke kehidupan dewasa, khususnya dalam aspek finansial, maka satu pertanyaan menarik dari Kevin Hogan layak kita simak, ”What is the difference between the top 20% of people who earn 80% of the money and the 80% of the people who earn 20% of the money?”
Jawabannya adalah:- 20% orang itu adalah pakar di bidang komunikasi. Mereka tahu bagaimana mengajukan pertanyaan dan menemukan kebutuhan dan keinginan orang lain. - Orang sukses adalah pakar di dua bidang. Pertama, di bidang pekerjaan mereka yang mereka komunikasikan dengan sangat baik dengan orang lain. Kedua, komunikasi pada level pikiran bawah sadar.
Sekali lagi, ini semua melibatkan kemampuan bahasa yang tinggi.
Sebagai penutup artikel ini saya ingin memberikan pertanyaan bagi Anda, untuk menguji kemampuan bahasa Indonesia Anda. Bisakah anda rasakan apa bedanya pernyataan ini, ”Saya bertanggung jawab kepada Anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk Anda.”
Pembaca, semoga apa yang telah saya uraikan bisa bermanfaat bagi Anda। Saya bertanggung jawab kepada Anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk Anda.[awg]



MITOS PR: MANFAAT ATAU MUDARAT?

It is not enough to be busy; so are the ants. The question is: What are we busy about?”~ Henry David Thoreau
Dalam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta baru-baru ini, saat di pesawat, saya duduk berdampingan dengan seorang ibu, sebut saja Bu Yuni. Terus terang saya agak kaget waktu disapa oleh Bu Yuni, “Hi, Pak Adi, ya? Apa kabar Pak? Wah, nggak nyangka lho bisa bertemu Pak Adi di sini.”
Sambil bersalaman dan menjawab pertanyaan Bu Yuni saya berusaha keras mengingat di mana pernah bertemu dengan Bu Yuni. Bu Yuni menyadari kebingungan saya dan berkata, “Bingung, kan? Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya Pak. Saya mengenal Pak Adi melalui berbagai artikel yang Bapak tulis di internet dan juga buku-buku Bapak.”
“Oh… begitu toh ceritanya. Makanya saya bingung. Lha, Ibu kenal saya tapi saya kok nggak ingat pernah bertemu Ibu,” jawab saya lega.
Selama perjalanan sekitar 1 jam antara Surabaya – Jakarta saya memberikan ”mini seminar” dan menjadi rekan diskusi dan sharing dengan Bu Yuni.
Ada banyak hal yang Bu Yuni tanyakan. Salah satu yang menarik adalah mengenai stres yang dialami anak Bu Yuni, yang di SD kelas 3, karena beban pelajaran yang sangat berat.
”Ah, itu sudah lumrah, Bu. Kalau nggak stres namanya bukan sekolah,” canda saya.
”Ya, tapi kan kasihan anak saya, Pak. Coba bayangkan. Sudah banyak ulangan, hampir tiap hari deh ulangannya, masih dikasih tugas, eh masih ditambah PR yang sangat banyak. Saya sampe kasihan sama anak saya. Waktunya habis hanya untuk ngerjakan PR, tugas, belajar, dan terus belajar. Nggak ada waktu untuk bermain dan menikmati masa kecil,” keluh Bu Yuni sambil menghela nafas panjang.
Pembaca yang budiman, apa yang saya ceritakan di artikel ini adalah hasil diskusi saya dengan Bu Yuni selama di pesawat dan dilanjut sampai di ruang kedatangan bandara.
Pembaca, pernahkah anda, sebagai orangtua atau pendidik, memikirkan dengan sungguh-sungguh manfaat PR, yang jumlahnya cukup banyak, yang harus dikerjakan anak/murid kita setiap hari?
Dulu saya juga merenungkan hal yang sama. Saat itu saya mengajukan berbagai pertanyaan seputar PR kepada diri saya sendiri:
• Apakah ada pakar yang pernah meneliti korelasi antara PR dan prestasi akademik? • Apakah benar semakin banyak PR yang dikerjakan maka hasilnya semakin baik untuk anak? • Apakah nggak sebaliknya, semakin banyak PR justru berpengaruh negatif? • Apakah ada mata kuliah yang mengajarkan tata cara yang benar dalam memberikan PR kepada anak/murid? • Apakah ada cara lain, selain PR, untuk meningkatkan prestasi anak?
Setelah banyak merenung, banyak bertanya, banyak membaca literatur, searching di Internet, dan membaca pemikiran para pakar, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa PR yang banyak tidak menjamin peningkatan prestasi akademik. PR sebenarnya tidak perlu banyak-banyak. Seperlunya saja. PR yang sangat banyak, ditambah lagi dengan beban pelajaran dalam bentuk ujian dan tugas-tugas lainnya justru berakibat negatif pada anak. Saat ini ada sangat banyak anak yang stres karena sekolah. Proses belajar yang seharusnya menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan ternyata kini justru menjadi sesuatu yang sangat membebani anak.
Baru-baru ini saya membaca satu buku bagus, karya Sara Bennet dan Nancy Kalish, yang berjudul The Case Against Homework: How Homework is Hurting Our Children and What We Can Do About It.
Wah, saya senangnya bukan main saat membaca buku ini. Mengapa? Karena buku ini berisi penelitian para pakar di Amerika mengenai korelasi antara PR dan prestasi akademik anak. Apa yang ditulis di buku ini memvalidasi kesimpulan saya mengenai PR. Bahkan lebih ekstrim lagi.
Banyak orangtua dan pendidik yang ”yakin” bahwa PR sangat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman dan hasil pembelajaran anak. Namun penelitian, seperti yang dipaparkan di buku The Case Against Homework, justru mengatakan yang sebaliknya.
National Education Association, yang beranggotakan lebih dari 2,7 juta pendidik di Amerika, dan juga National Parent Teacher Association mengeluarkan panduan tata cara memberikan PR yang benar dan layak.
Tahukah anda apa yang mereka rekomendasikan?
Kedua asosiasi ini merekomendasikan lama waktu ideal untuk mengerjakan PR setiap hari sebagai berikut:
• usia TK sampai SD kelas 2 antara 10 sampai 20 menit • SD kelas 2 sampai 6 antara 30 sampai 60 menit
Sedangkan menurut Prof Harris Cooper, salah satu peneliti terkemuka di bidang ini, dan juga penulis buku The Battle Over Homework: Common Ground for Adminstrators, Teachers, and Parents, sekolah harus mengikuti aturan “10 menit per malam per level kelas”. Jadi, untuk anak kelas 1 SD maka waktu mengerjakan PR maksimal 10 menit per malam. Untuk kelas 2 SD maksimal 20 menit. Demikian seterusnya.
Yang lebih mengagetkan lagi adalah hasil review yang dilakukan Profesor Cooper, pada tahun 2001, atas lebih dari 120 studi mengenai PR dan efeknya, dan ditambah lagi dengan review, pada tahun 2006, terhadap 60 studi lainnya, dengan topik yang sama, ternyata diperoleh data bahwa hampir tidak ada korelasi antara jumlah PR dan prestasi akademik di SD. Sedangkan untuk level sekolah menengah (SMP/SMU) terdapat korelasi yang moderat antara jumlah PR dan prestasi akademik. Namun jika PR yang diberikan terlalu banyak, di sekolah menengah, justru akan kontraproduktif.
Menurut David Baker dan Gerald LeTendre, profesor pendidikan dan penulis buku National Differences, Global Similarities: World Culture and the Future of Schooling, negara-negara yang terkenal dengan pendidik yang memberikan PR yang banyak, seperti Yunani, Thailand, dan Iran ternyata prestasi akademik murid mereka justru sangat buruk.
Sebaliknya negara-negara seperti Jepang, Denmark, dan Czech Republic, yang murid-muridnya menempati ranking tertinggi prestasi akademik dalam skala dunia, ternyata guru-guru di negara ini memberikan sangat sedikit PR.
Profesor Baker menyimpulkan bahwa semakin banyak PR yang diberikan kepada murid maka semakin buruk prestasi akademik yang dicapai. Bahkan pakar lainnya, Prof Kralovec, menyatakan bahwa tidak ada bukti sama sekali bahwa PR baik untuk pemantapan hasil belajar.
Di akhir tahun 1990-an banyak sekolah dasar di Jepang yang menetapkan kebijakan ”no-homework” alias tidak ada PR. Tujuannya adalah agar anak bisa mempunyai lebih banyak waktu luang bersama keluarga dan mengerjakan hal-hal lain, di luar kegiatan sekolah, yang menarik minat mereka.
Survey tahun 2006 oleh American Psychological Association (APA) terhadap 1.300 pelajar sekolah menengah mendapatkan data bahwa lebih dari 42% pelajar menyatakan PR mengakibatkan sangat banyak stres dalam diri mereka. Dan hampir 16% mengatakan mereka mengalami stres yang ekstrim.
Sewaktu saya menjelaskan hasil riset ini Bu Yuni langsung bertanya, ”Nah, saya mau tanya nih sama Bapak. Pak Adi kan telah mendirikan sekolah Anugerah Pekerti di Surabaya. Bagaimana kebijakan yang Pak Adi tetapkan di sekolah Anugerah Pekerti dalam hal PR?”
Hasil riset ini tentu harus kita sikapi dengan cermat dan bijaksana. Kami memberikan PR seperlunya saja. Apabila anak diminta mengerjakan latihan soal atau PR maka kami memastikan bahwa anak akan melakukannya dengan hati gembira, tanpa tekanan sama sekali. Bahkan seringkali yang tertulis di agenda murid adalah, ”Kerjakan soal latihan di buku paket matematika, terserah berapa halaman!”
Eiit... tunggu dulu. Jangan salah mengerti dengan apa yang barusan saya jelaskan. Walaupun guru memberikan pesan, ”Kerjakan soal latihan di buku paket matematika, terserah berapa halaman!” Namun, murid kami mengerjakan PR atau latihan sampai berpuluh-puluh halaman. Sama sekali tanpa merasa stres atau tertekan.
Lha, kok bisa?
Dengan memahami psikologi anak, menerapkan proses pembelajaran yang menyenangkan, memahami cara kerja pikiran dan memori, membangun ekspektasi yang tinggi dalam diri setiap murid, menggunakan teknik goal setting yang kondusif dengan tingkat tantangan yang moderat, dan masih banyak pendekatan lainnya, kami bisa membangkitkan motivasi intrinsik dalam diri setiap murid sehingga mereka sangat senang mengerjakan PR atau latihan.
Jadi, PR yang banyak sebenarnya tidak jadi masalah jika anak senang mengerjakannya dan sama sekali tidak merasa terbebani.
Anda mungkin akan berkata,”Sudah tentu Pak Adi bisa melakukan hal ini di sekolah Anugerah Pekerti. Kan Bapak pendirinya. Sekolah lain belum tentu bisa melakukan seperti apa yang guru Anugerah Pekerti lakukan.”
Apakah hanya sekolah kami yang bisa melakukan hal ini?
Oh, tidak.
Pertengahan Maret 2007 lalu saya dan Pak Ariesandi memberikan pelatihan Genius Learning Strategy dan aplikasinya di bidang studi matematika kepada 40 orang guru SD di wilayah Kabupaten Pasuruan.
Hasilnya? Luar biasa. Salah satu guru, yang telah menerapkan apa yang kami ajarkan, memberikan laporan yang sungguh menggembirakan. Guru ini, Pak Pendi, berhasil meningkatkan motivasi belajar siswanya, murid SD kelas 6, secara luar biasa. Seluruh murid Pak Pendi sekarang sangat senang belajar. Bahkan prestasi akademik yang dicapai kelas Pak Pendi telah melampaui prestasi kelas satunya yang nota bene terdiri dari anak-anak pilihan. PR? Sama sekali tidak ada masalah. Justru murid-muridnya, dengan senang hati, minta latihan soal kepada Pak Pendi.
Poin penting yang perlu diperhatikan yaitu PR yang diberikan harus didesain sedemikian rupa sehingga hampir semua murid dapat mengerjakan dan menyelesaikan dengan baik dan mendapat nilai evaluasi yang baik. PR atau tugas yang diberikan tidak boleh terlalu sulit. Jika terlalu sulit maka yang lebih sering terjadi adalah PR itu dikerjakan oleh para orangtua, bukan oleh anak/murid. Sudah menjadi rahasia umum orangtua yang lebih sibuk, daripada anaknya, saat si anak mendapat PR.
Selain itu PR tidak boleh sebagai hukuman. Bila kita memberikan PR sebagai bentuk hukuman maka anak akan benci PR dan selanjutnya menjadi benci belajar.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah guru, pada umumnya jarang sekali, jika tidak mau dikatakan tidak pernah, saling berkomunikasi mengenai PR atau tugas yang akan diberikan kepada murid. Seringkali terjadi tumpang tindih dalam memberikan PR atau tugas. PR atau tugas sebenarnya bisa dikurangi bila sesama guru saling berkoordinasi sehingga satu tugas meliputi beberapa bidang studi.
Apakah mungkin kita meniadakan PR sama sekali? Jawabannya may be yes... may be no.
PR bisa ditiadakan bila pembelajaran di kelas tuntas. Jadi, anak benar-benar mengerti materi yang diajarkan gurunya di kelas. Nah, jika ini bisa kita lakukan maka PR bisa ditiadakan. Atau bila tetap perlu diberi PR maka yang diberikan kepada anak hanya secukupnya saja. Nggak usah banyak-banyak.
Kita ambil contoh matematika. Bila anak telah menguasai konsep dengan benar dan telah mampu mengerjakan, katakanlah, 5 soal dengan benar maka ini sudah cukup. Tidak ada gunanya untuk meminta mengerjakan 10, 20, atau bahkan 30 soal latihan dengan topik yang sama.
PR yang secukupnya ini selain untuk melatih dan menumbuhkan kebiasaan belajar, tanggung jawab akademik, disiplin, juga bisa digunakan untuk semakin mempererat hubungan antara orangtua dan anak.
Saat orangtua, yang peduli dan perhatian dengan anak, membantu anak mengerjakan PR maka terjalin komunikasi batin yang intens dan konstruktif. Hal ini sangat dibutuhkan anak saat tumbuh kembang.
Pembaca, setelah membaca uraian saya, ditambah dengan pengamatan terhadap apa yang dialami anak/murid anda dengan mengerjakan PR yang banyak, saya ingin menutup artikel ini dengan satu pertanyaan pada anda, “Apakah PR benar-benar bermanfaat bagi kemajuan anak kita? Jika anda bisa mengubah sistem pendidikan, kebijakan apa yang akan anda terapkan dalam hal pemberian PR kepada anak/murid?” Adi Gunawan
Sumber ;

Ekspresi Kelas VI

Ekspresi Kelas VI